Ini merupakan percikan pikiran yang kulontarkan di mailinggroup terbesar urang Minang, yaitu : RantauNet.
------------------------------------
Re: Bls: Bls: [R@ntau-Net]
Risau, Siapa Pelanjut Ulama Besar
Jumat, 24
September, 2010 00:18
Dari:
Kepada:
Assalamu'alaikum dunsanak sadonyo di
Palanta....,Mengenai topik : Risau - Siapa Pelanjut Ulama Besar, ini..., ambo berkhayal sarupo ko ha. Kito paralu managakkan baliak surau nan alah roboh (mengutip judul Novel AA. Navis : Robohnya Surau Kami). Tapi Surau ko adalah Surau Modern. Terhubung satu sama lain melalui jaringan internet. Akses kepada website keagamaan dibuka seluas-luasnya. Akses ke situs-situs yg mubazir dan maksiat, ditutup habis.
Pelajaran agama Islam yg salamo ko dilakukan di sekolah, dilakukan di Surau. Salah satu kurikulum pelajaran disekolah adalah Bahasa Arab, yg disusun untuk mencapai tujuan akhir : siswa bisa memahami Al-Qur'an. Pelajaran Bahasa Arab ini dimulai dari TK sampai, minimal SMA.
Guru gurunya adalah guru-guru yg parlente, tapi alim, punya ilmu agama yg luas (eh... tapi ado ndak guru agama yg sarupo tu....??....ahhh.., beko lo lah itu kito etong....).
Kito harus bisa memberi gaji yg bisa menaikkan gengsi guru-guru agama ko, dimata masyarakat yg sudah materialistis ko, sehingga profesi Guru Agama menjadi profesi yg membanggakan. Jangan seperti sekarang, gaji guru agama, yg mengajarkan anak-anak kita bisa membaca Al-Qur'an, jauh lebih kecil dari uang les Matematika...??.Apalagi dari uang les Piano...!!.
Tamat TK, harus khatam Juz Amma. Tamat SD, harus khtam Juz Amma dengan Artinya. Tamat SMP harus khatam Al-Qur'an. Tamat SMA, harus khatam AlQuran, dan artinya (min 50% dari Surat yg ada dalam Al-Qur'an). Dari SMP sampai SMA, siswa harus membuat makalah mengenai ayat-ayat Al-Qur'an, tentu dsesuaikan tingkat kesulitannya dengan usia dan pelajaran Agama yg di pelajarinya. Setiap pelajaran lain, harus bisa dikorelasikan dengan Al-Qur'an. Misalnya, ketika belajar Biologi, Makhluk Hidup, harus bisa dirujuk ke ayat Al-Qur'an tertentu yg relevan. Atau ketika belajar ilmu ekonomi, harus bisa merujuk kepada ayat2 ekonomi yg relevan. Mudah2an dengan cara seperti itu, dari sekian ratus ribu murid sekolah, ada yg tertarik mendalami ilmu agama, yg kelak dikemudian hari menjadi Ulama Besar. Setidak tidaknya, nuansa agama bisa hidup dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan di tengah masyarakat.
Kalau sistim seperti iko di jalankan serentak di seluruh Minagkabau, mugkin kita bisa mengharapkan hasil yg positif.
Dari sistim pendidikan sarupoko,
barangkali akan lahir generasi Minangkabau seperti inyiak-inyiak mereka dulu.
Baa gak ati tu Sanak...?. Atau, terlalu jauah khayalan ambo ko...??
Baa gak ati tu Sanak...?. Atau, terlalu jauah khayalan ambo ko...??
Salam,
Marindo Palar
Marindo Palar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar, demi kemajuan Minangkabau